jam asyiiiiik

Senin, 12 Desember 2011

KOSA KATA KOREA



Kata Ganti Orang:
Saya --> 저 (Jho)
Aku --> 나 (Na)
Anda --> 당신 (Dhangshin)
Kamu --> 노 (No)
Dia --> 그 (Gheu)
Mereka --> 그들 (Gheudheul)
Kami --> 우리 (Uri)
Kita --> 우리들 (Uridheul)

Keluarga --> 가족 (Ghajok):Ayah --> 아버지 (Abheojhi)
Ibu --> 어머니 (Eomeoni)
Adik Laki2 --> 남동생 (Namdhongshaeng)
Adik Perempuan --> 여동생 (Yeodongshaeng)
Kakak Laki2 (untuk adik laki2) --> 형 (Hyeong)
Kakak Laki2 (untuk adik perempuan) --> 오빠 (Oppa)
Kakak Perempuan (Untuk adik laki2) --> 누나 (Nuna)
Kakak Perempuan (untukadik perempuan) --> 언니 (Eonni)
Paman --> 삼촌 (Shamchon)
Bibi --> 숙모 (Shungmo)
Pakde (Uwak laki2) --> 큰아버지 (Kheunabeojhi)
Bude (Uwak perempuan) --> 큰어머니 (Kheuneomoni)
Kakek --> 할아버지 (Harabheojhi)
Nenek --> 할머니 (Halmeoni)
Sepupu --> 사촌 (Shachon)
Kakak Ipar laki2 --> 매형 (Maehyeong)
Kakak Ipar Perempuan --> 매부 (Maebhu)
Adik Ipar --> 시동생 (Shidongshaeng)
Bapak Mertua --> 시아버지 (Shiabheojhi)
Ibu Mertua --> 시어머니 (Shieomeoni)

Penyakit :
Sakit kepala -->두 통 (tutong)
Demam --> 열(yol)
Sembelit --> 변 비(pyonbi)
Mencret --> 설 서(solsa)
Flu --> 검 기(kamgi)
Pegal linu --> 신 경 통(shingyongtong)
Infeksi -->염 증(yomjung)
Sakit perut --> 복통(poktong)
Salah pencernaan --> 소 화 불 량(sohwabulyang)
Sakit gigi --> 치 통(chitong)
Mual --> 구 토 (kuto)

Nama2 Tempat:
Kantor --> 사무실 (Shamushil)
Kamar/Ruangan --> 방 (Bhang)
Kamar Kecil --> 화장실 (Hwajhangshil)
Dapur --> 주방 (Jhubhang)
Rumah --> 집 (Jhip)
Garasi --> 차고 (Chago)
Halaman --> 광장/마당 (Ghwangjang/Madhang)
Stasiun --> 역 (Yeok)
Pasar --> 시장 (Shijang)
Sekolah --> 학교 (Hakkyo)
Universitas --> 대학교 (Daehakkyo)
Bank --> 은행 (Eunhaeng)
Bandara --> 공항 (Ghonghang)
Terminal --> 터미널 (Teomineol)
Tempat Parkir --> 주차장 (Jhuchajhang)
Pelabuhan --> 항고 (Hanggo)
Rumah Sakit --> 병원 (Bhyeongwon)
Apotik --> 약국 (Yakguk)
Pabrik --> 공장 (Ghongjhang)
Kantor Pos --> 우체국 (Ucheguk)
Kantor Polisi --> 경찰서 (Gyeongchalseo)
Penjara --> 교도소 (Gyodoso)
Kantor Imigrasi --> 출입국 관리 사무소 (chulibguk Ghwanri Samuso)
Jalan Raya --> 도로 (Doro)
Jalan Tol --> 고속 도로 (Gosokdoro)
Halte --> 정류장 (Jhyeongryujhang)
Hutan --> 산림 (Shallim)
Stadion --> 경기장 (Ghyeongghijhang)
Sawah --> 논 (Non)
Istana --> 대궐 (Dhaeghwol)
Gudang --> 창고 (Changgho)
Desa --> 마을 (Maeul)
Kota --> 도시 (Dhoshi)
Gang/Lorong --> 길 (Ghil)
Warung/Toko --> 가개 (Ghaghae)
Telepon Umum --> 공중 전화 (Ghongjhung Jheonhwa)
Ruang Istirahat --> 휴게실 (Hyugheshil)
Mesjid --> 모스크 (Mosheukheu)/이슬람 교회 (Iseullam Ghyohwe)
Biara --> 수도원 (Shudhoweon)
Gereja --> 교회 (Ghyohwe)
Kebun --> 정원 (Jheongwon)
Kebun Raya --> 공원 (Ghongwon)
Kebun Binatang --> 동물원 (Dhongmulwon)
Bioskop --> 영화관 (Yeonghwaghwan)
Rumah Makan --> 식당 (Shikdhang)

Ini contoh kalimatnya :
다음 주에동물원에 가겠어요(Daum jue dongmulwone kaketsoeoyo)
Minggu depan Saya akan pergi ke kebun binatang

나는 한국 식당에서 저녁을먹어요(Nanuen hanguk siktangeseo cheoyeokeul meogoyo)
Saya makan malam direstoran Korea

Kamis, 20 Oktober 2011

WASPADAI PENYAKIT DIFTERI

Difteri merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya pada anak anak. Penyakit ini mudah menular dan menyerang terutama daerah saluran pernafasan bagian atas. Penularan biasanya terjadi melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat. Selain itu penyakit ini bisa juga ditularkan melalui benda atau makanan yang terkontaminasi.
Difteri disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae, suatu bakteri gram positif yang berbentuk polimorf, tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Gejala utama dari penyakit difteri yaitu adanya bentukan pseudomembran yang merupakan hasil kerja dari kuman ini. Pseudomembran sendiri merupakan lapisan tipis berwarna putih keabu abuan yang timbul terutama di daerah mukosa hidung, mulut sampai tenggorokan. Disamping menghasilkan pseudomembran, kuman ini juga menghasilkan sebuah racun yang disebut eksotoxin yang sangat berbahaya karena menyerang otot jantung, ginjal dan jaringan syaraf.

Menurut tingkat keparahannya, penyakit ini dibagi menjadi 3 tingkat yaitu :
- Infeksi ringan bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan.
- Infeksi sedang bila pseudomembran telah menyerang sampai faring (dinding belakang rongga mulut) sampai menimbulkan pembengkakan pada laring.
- Infeksi berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai dengan gejala komplikasi seperti miokarditis (radang otot jantung), paralisis (kelemahan anggota gerak) dan nefritis (radang ginjal).

Disamping itu, penyakit ini juga dibedakan menurut lokasi gejala yang dirasakan pasien :
- Difteri hidung bila penderita menderita pilek dengan ingus yang bercampur darah.
- Difteri faring dan tonsil dengan gejala radang akut tenggorokan, demam sampai dengan 38,5 derajat celsius, nadi yang cepat, tampak lemah, nafas berbau, timbul pembengkakan kelenjar leher. Pada difteri jenis ini juga akan tampak membran berwarna putih keabu abuan kotor di daerah rongga mulut sampai dengan dinding belakang mulut (faring).
- Difteri laring dengan gejala tidak bisa bersuara, sesak, nafas berbunyi, demam sangat tinggi sampai 40 derajat celsius, sangat lemah, kulit tampak kebiruan, pembengkakan kelenjar leher. Difteri jenis ini merupakan difteri paling berat karena bisa mengancam nyawa penderita akibat gagal nafas.
- Difteri kutaneus dan vaginal dengan gejala berupa luka mirip sariawan pada kulit dan vagina dengan pembentukan membran diatasnya. Namun tidak seperti sariawan yang sangat nyeri, pada difteri, luka yang terjadi cenderung tidak terasa apa apa.

Melihat bahayanya penyakit ini maka bila ada anak yang sakit dan ditemukan gejala diatas maka harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit untuk segera mendapatkan penanganan. Pasien biasanya akan masuk rumah sakit untuk diopname dan diisolasi dari orang lain guna mencegah penularan. Di rumah sakit akan dilakukan pengawasan yang ketat terhadap fungsi fungsi vital penderita untuk mencegah terjadinya komplikasi. Mengenai obat, penderita umumnya akan diberikan antibiotika, steroid, dan ADS (Anti Diphteria Serum).
Dengan pengobatan yang cepat dan tepat maka komplikasi yang berat dapat dihindari, namun keadaan bisa makin buruk bila pasien dengan usia yang lebih muda, perjalanan penyakit yang lama, gizi kurang dan pemberian anti toksin yang terlambat.
Walaupun sangat berbahaya dan sulit diobati, penyakit ini sebenarnya bisa dicegah dengan cara menghindari kontak dengan pasien difteri yang hasil lab-nya masih positif dan imunisasi.